Pada Sepucuk Surat
By; Ady_Az_zumar
Tanpa akad
aku mengusung, membangun Istana Tanpa Taman
menatap sejuta kisah menanti pada pijar Istana kita, yang tersodor pada lembar kertas, yang telah lama termakan rayap.
Kini, seolah sepi Istana yang ku singgahi tanpa penghuni
kita hanya bertiga, bukan tuan rumah, tapi warisan yang tersurat tanpa akad.
Tapi, apakah cukup hanya tiga penggawa saja
untuk menata Istana yang kian hari kian meruntuh?
Aku pasir…
Engkau kerikil, dan
Dia air.
Apakah cukup menguatkan tiang pada delapan penyanggah tanpa semen dan koral untuk beridiri kokoh?
Katamu “izinkan aku pergi sejenak, meninggalkan segala perih, penat, tanpa skenario yang tak mampu ku genggam.”
Wajar saja kau bergumam, karena ini bukan dunia gurau
terlalu mustahil untuk kita menggenggam delapan penyanggah.
Hari ini, pada setengah abad yang tak faham jua kupelajari
dimana 12 kunci yang dulu menyatu pada hiasan pintu sebagai titik temu?
Kepada Pengurus FLP SUMSEL
Sungai Musi, 26 April 2009
07;42;08